Pernah gagal raih Guinness World Record di Jam Ke-82 karena mati lampu

Thursday, December 29th, 2016

picture45

Seputarsumsel.com-Palembang,
30 Desember 2016 hingga 6 Januari 2017 di pelataran Benteng Kuto Besak Palembang akan menjadi saksi bagi ribuan pasang mata, yang akan menyaksikan atraksi yang pastinya kece banget dari sang Drumer penyuka genre rock, Kunto Hartono, dengan melakukan The Longest Marathon Drumming 145 Hours Guinness World Records yakni pemecahan rekor dunia dengan menabuh drum selama 145 jam nonstop dan disiarkan secara langsung via streaming untuk disaksikan oleh pihak Guinness World Records di London, Inggris yang akan melakukan penilaian.

Namun tahukan kamu bahwa ternyata pria berambut gondrong berusia 39 tahun ini sudah 2 kali meraih rekor dunia sebagai penabuh drum loh. Ditemui di sela-sela sesi latihan terakhirnya bersama anak band kota Palembang di Studio Home of Art di kawasan Ajendam II Sriwijaya Sekojo Palembang, Kunto mengungkapkan, hal ini bukan untuk membanggakan dirinya semata, melainkan membanggakan Indonesia di kancah dunia.

“Rekor pertama saya dapatkan dengan menabuh drum selama 72 jam nonstop, yakni pada 29 Desember 2003 sampai 1 Januari 2004 di Jakarta. Rekor kedua saya dapatkan dengan menabuh drum selama 122 jam, yakni pada 27 Desember 2011 sampai 1 Januari 2012 di kota Malang,” jelas lelaki asal Banyuwangi ini.

Tapi sayang sebelum rekor kedua, ia pernah menggelar event pemecah rekor drum serupa di tahun 2010. Tetapi, pemecah rekor tersebut gagal, karena dari target 135 jam, pada saat jam ke-82 permainan terhenti karena mati lampu.

“Penulisan rekor ini tidak main-main. Sekali berhenti, dengan alasan apapun, ya sudah, tidak bisa lagi diulang. Oleh karena itu, saya sangat mengharapkan perhatian dari semua pihak,” ucap pria yang memiliki satu putra ini yang sudah kadung mencintai permainan drum sejak 25 tahun silam.

Event pemecahan rekor dunia kali ini, adalah untuk mengalahkan rekor penabuh drum nonstop asal Kanada, Steven Gaul yang meraih rekor menabuh drum selama 134 jam nonstop.

Lalu mengapa sih memilih Palembang sebagai lokasi kota pemecah rekor dunia?

Awalnya saya bermimpi, saya didatangi salah satu Wali Songo yakni Sunan Gunungjati. Dalam mimpi saya, saya diperlihatkan dengan keberhasilan saya meraih rekor lagi, di kota yang memiliki jembatan kokoh terkenal, dan di bawahnya ada air mengalir. Setelah saya renungi, saya memilih Palembang untuk memecahkan rekor ketiga kalinya.

Selain itu, Palembang saat ini tengah mencuri perhatian Dunia dengan keberhasilannya sebagai penyelenggara sejumlah event Internasional dan kini Palembang tengah sibuk berbenah menyambut tamu besar dari Asia dalam perhelatan Asian Games 2018 dan inilah yang menjadi pertimbangan dan sekaligus ikut memperkenalkan keindahan Sungai Musi dan Jembatan Ampera yang nantinya akan disiarkan langsung secara streaming, urainya.

Dikatakannya, tidak ada persiapan khusus dalam menghadapi event spektakulernya nanti. “Paling olahraga saja di hotel. Selebihnya, saya tetap mengkonsumsi resep sehat dari Ibu saya, yakni campuran kuning telur ayam kampung, kunyit dan madu,”tutupnya kepada Seputarsumsel.com



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kunto Hartono Official Site